Mengapa menurut Kenneth Waltz Sistem Bipolar Paling Stabil di jaman perang dingin?

 


Salah satu perdebatan klasik yang hampir selalu muncul di kelas-kelas teori Hubungan Internasional adalah soal struktur sistem internasional apakah dunia lebih stabil kalau dikuasai satu kekuatan besar (unipolar), dua kekuatan besar (bipolar), atau banyak kekuatan besar (multipolar)? Nah, salah satu tokoh yang punya pandangan cukup kuat dan berpengaruh soal ini adalah Kenneth Waltz, bapak neorealisme atau structural realism. Menurut Waltz, sistem bipolar itu justru yang paling stabil dibanding sistem lainnya.

Siapa Kenneth Waltz?

Kenneth Waltz adalah salah satu pemikir paling berpengaruh dalam studi HI lewat bukunya Theory of International Politics (1979), yang sampai sekarang masih jadi bacaan wajib di hampir semua program pascasarjana HI di dunia. Berbeda dari realisme klasik yang menekankan sifat dasar manusia (serakah, haus kekuasaan) sebagai akar konflik, Waltz justru fokus pada struktur sistem internasional sebagai penentu utama perilaku negara. Pendekatan ini dikenal sebagai neorealisme atau structural realism.

Buat Waltz, ada tiga hal penting yang membentuk struktur sistem internasional:

  1. Sistemnya bersifat anarkis tidak ada otoritas pusat di atas negara-negara berdaulat.
  2. Semua unit (negara) pada dasarnya punya fungsi yang sama sama-sama berusaha bertahan hidup.
  3. Yang membedakan adalah distribusi kapabilitas seberapa besar kekuatan yang dimiliki masing-masing negara dibanding negara lain.

Penjelasan Kenneth Waltz: Kenapa Bipolar Lebih Stabil?

Kenneth Waltz pertama kali melontarkan gagasan ini lewat artikelnya di jurnal Daedalus tahun 1964, "The Stability of a Bipolar World", lalu memperkuatnya lebih sistematis di buku Theory of International Politics. Ada beberapa alasan inti kenapa dia menganggap sistem bipolar lebih stabil dibanding multipolar:

1. Ketidakpastian Lebih Rendah Dalam sistem bipolar, cuma ada dua kekuatan besar yang perlu saling diperhitungkan. Ini jauh lebih sederhana dibanding sistem multipolar, di mana banyak negara besar harus terus-menerus menghitung siapa berpihak ke siapa, aliansi mana yang bisa berubah kapan saja, dan siapa yang benar-benar jadi ancaman. Semakin banyak aktor, menurut Waltz, semakin tinggi pula tingkat ketidakpastian sistemik dan ketidakpastian inilah yang justru meningkatkan risiko salah perhitungan (miscalculation) yang bisa memicu perang.

2. Fokus yang Lebih Jelas Karena cuma ada dua kekuatan dominan, masing-masing bisa fokus penuh mengamati dan menyeimbangkan kekuatan satu sama lain, tanpa perlu khawatir "dikhianati" sekutu atau harus berbagi perhatian ke banyak front sekaligus. Kejelasan ini membuat kedua kekuatan besar lebih mudah memahami niat dan kapabilitas lawannya, sehingga risiko kesalahpahaman strategis jadi lebih kecil.

3. Internal Balancing, Bukan External Balancing Ini salah satu poin paling penting dari argumen Waltz. Dalam sistem bipolar, kedua kekuatan besar cenderung melakukan internal balancing  memperkuat kapabilitas militer dan ekonomi mereka sendiri dibanding external balancing yang mengandalkan aliansi dengan negara lain. Kenapa ini penting? Karena ketergantungan pada sekutu itu berisiko sekutu bisa berubah pikiran, keluar dari aliansi, atau justru menyeret negara besar ke konflik yang sebenarnya tidak diinginkan. Dengan mengandalkan kekuatan sendiri, kedua kekuatan besar dalam sistem bipolar jadi lebih independen dan tidak mudah "diseret" masuk perang oleh ulah sekutu yang lebih kecil.

4. Efek Senjata Nuklir Meski bukan syarat mutlak dari teorinya, Waltz juga menekankan bahwa kehadiran senjata nuklir dalam konteks bipolaritas Perang Dingin memperkuat stabilitas lewat logika Mutually Assured Destruction (MAD) kedua kekuatan besar sama-sama tahu bahwa perang terbuka bakal menghancurkan keduanya, sehingga insentif untuk menghindari konfrontasi langsung jadi jauh lebih besar.

Kajian Teori Hubungan Internasional

1. Neorealisme (Waltz) vs Realisme Klasik Kalau realisme klasik ala Hans Morgenthau menganggap sifat manusia yang haus kekuasaan sebagai akar konflik, Waltz justru bilang itu kurang relevan yang lebih menentukan adalah struktur sistem itu sendiri. Argumen bipolaritas ini jadi bukti kuat pendekatan strukturalnya: stabil tidaknya dunia bukan soal siapa pemimpinnya atau ideologi apa yang dianut, tapi soal berapa banyak kekuatan besar yang ada dan bagaimana kapabilitas terdistribusi di antara mereka.

2. Kritik dari John Mearsheimer (Offensive Realism) Menariknya, sesama realis pun tidak selalu sepakat. Mearsheimer, meski sama-sama berangkat dari tradisi realis, punya pandangan berbeda soal implikasi bipolaritas dia justru mengkhawatirkan instabilitas Eropa pasca-Perang Dingin karena hilangnya struktur bipolar yang selama ini "memaksa" disiplin strategis pada negara-negara besar.

3. Kritik dari Liberalisme dan Institusionalisme Kaum liberal-institusionalis, seperti Robert Keohane, berargumen bahwa stabilitas Perang Dingin bukan semata soal struktur kekuatan, tapi juga karena berkembangnya rezim dan institusi internasional (meski terbatas) yang membantu mengelola krisis sesuatu yang menurut Waltz kurang begitu ditekankan dalam analisis strukturalnya.

4. Kritik dari Konstruktivisme Konstruktivis seperti Alexander Wendt akan mempertanyakan asumsi Waltz bahwa struktur material (distribusi kekuatan) adalah faktor penentu utama. Bagi konstruktivis, cara AS dan Uni Soviet memaknai satu sama lain sebagai musuh ideologis yang harus dikalahkan, bukan sekadar pesaing kekuatan biasa juga berperan besar membentuk dinamika Perang Dingin, bukan cuma soal berapa banyak kekuatan besar yang ada di sistem.

Menurut saya, argumen Waltz soal stabilitas bipolar ini tetap jadi salah satu kontribusi paling elegan dalam teori HI karena kesederhanaan logikanya makin sedikit aktor besar, makin rendah ketidakpastian, makin kecil peluang kesalahan fatal. 

Sumber:

Hubunganinternasional.com
Hubunganinternasional.com Website yang Berisi tentang informasi yang berkaitan dengan disiplin keilmuan hubungan internasional, isu internasional, dan sharing knowledge segala hal yang berhubungan dengan Hubungan Internasional. Fokus utama website ini adalah pembahasan mengenai (Diplomasi, Diplomasi Publik, Gastrodiplomasi, Diaspora, Magang dan Kerja di INGO tetapi tidak menutup kemungkinan fokus hubungan internasional lain juga dapat dibahas pada website ini) Kami juga menerima tulisan atau Opini dari kalian dan apabila ada yang ingin menjadi Kontributor untuk website ini, Silahkan menghubungi admin website ini. Terimakasih

Posting Komentar untuk "Mengapa menurut Kenneth Waltz Sistem Bipolar Paling Stabil di jaman perang dingin?"